Senja Di Pelabuhan Kecil

Jam Istirahat saat SMA beberapa kali kuhabiskan diperpustakaan. Diruangan Bu Korompot, Guru PPKN sekaligus pengelola perpustakaan saat itu. Jika bukan karena mencari tugas, satu-satunya alasanku berada di tempat itu adalah majalah Horison…(Alhamdulillah sekarang sudah bisa dinikmati versi Onlinenya,..yang berminat silahkan ke TKP). beberapa yang masih tersimpan di kepala adalah tulisan shezerade,..sebuah syair yang hingga hari ini dalam ingatanku, kalimatnya sangat indah, tapi tak mampu ku ingat detail diksinya. Satu-satunya syair yang lekat erat dikepalaku, saat itu, bahkan setiap hari setelah hari itu (ga’ segitunya kaleešŸ™‚..) adalah diksi dalam puisi Senja Di Pelabuhan Kecil. Penulisnya sastrawan terkenal, pembaharu angkatan 45. Chairil Anwar. Puisinya indah, setiap membaca,…entah mengapa saya ikut merasa terluka (atau karena waktu SMA pernah bertepuk sebelah tangan yak? he.he.he..). Tapi diksinya memang menyentuh, coba lihat diksi pada bait pertamanya

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

Diantara Gudang, rumah tua, pada cerita Tiang serta temali

Kapal, perahu tiada berlaut, menghembus diri dalam percaya mau berpaut,…

Pilihan kata yang menyentuh untuk orang yang mau bilang ” patah hati ka’ ini..:)”…”Hampa,….” menurutku, “hampa” satu kata yang bisa mewakili satu bait tadi. …. Next lihat bait keduanya

Gerimis mempercepat kelam

ada juga kelepak elang menyinggung muram

Desir hari lari berenang menuju bujuk pangkal akanan

tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Diksi yang menggambarkan kemuraman, kesendirian, sepi, sendiri. Puisi ini ternyata ditujukan untuk Sri Ayati. Siapa Sri Ayati? Cinta Terpendam Bung Chairil Anwar. Hingga sri menikah, chairil tak pernah menyatakan Cinta. Sri pun mengetahui kalau chairil pernah menuliskan sajak untuknya hanya dari temannya. Setelah ia menikah dan punya seorang anak,…(antara kasihan dan bahwa itulah takdir, jalan hidupšŸ™‚..). Sri bahkan tidak tahu kalau Chairil menyukainya di saat mereka masih bersahabat (baca disini). Sri Ayati menyebutkan bait pertama yang dimaksud Chairil adalah pelabuhanĀ  sunda kelapa. Setelah membaca ini, saya membayangkan chairil di tepi pantai, dengan buku dan pena, mengingat wajah Sri ayati, dan mengalirlah diksi ….(he..he.he…emang kamu jaman muda Ning? he.he.he..)

Bait Ketiga:

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan (ikhlas,…) dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap,…(apa yang mau dikatakan chairil di baris ini?bahwa ia akan terus berjalan dan tangisnya akan hilang? hmmm mungkin saja) meskipun ada diksi “masih pengap harap” tapi menurutku baris terakhirnya mau bilang, Sri, aku akan baik-baik saja :)…..

Penyair patah hati. Beberapa tulisan mengatakan Chairil seperti itu. Jika Chairil masih hidup, saya jadi ingin bertanya, Hello chairil, apa yang membuatmu tidak percaya diri untuk bilang suka, tidak yakin dengan dirimu, takut ditolak? duuh,..tapi kalau chairil bilang suka sama sri Ayati, mungkin hari ini saya tidak bisa menikmati senja di pelabuhan kecilšŸ™‚.Ā  Yah apapun itu, saya menyukai sajak ini sejak pertama kali saya temukan di perpustakaan SMA, saat masih sering bertepuk sebelah tangan, hingga saat ini, 6 tahun lebih tak pernah lagi bertepuk sebelah tangan :)…(iyalah, lha jatuh cintanya sama suami sendiri wek…he.he..he…)

Biar tidak terpotong lihat utuh yuk sajaknya Chairil

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Untuk Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

Diantara Gudang, rumah tua, pada cerita Tiang serta temali

Kapal, perahu tiada berlaut, menghembus diri dalam percaya mau berpaut,…

Gerimis mempercepat kelam

ada juga kelepak elang menyinggung muram

Desir hari lari berenang menuju bujuk pangkal akanan

tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s