Rahasia Masakan Bunda (repost dari FB)

Siapapun anak didunia ini pasti menyukai bahkan bangga dengan masakan ibunya, tak terkecuali aku. Apapun yang dimasak ibu selalu terasa enak dan pas dilidahku. Bahkan hanya dengan tempe yang disajikan dengan air garam dan cabe (saat kecil dulu, biasanya makanan cepat saji-nya ibu jika baru pulang pasar dan belum memasak makanan lainnya) terasa mewah dilidahku dan sepiring nasi bisa habis dengan lauk siap saji seperti itu.

Dalam hal masak memasak, kukira ibu memang pantas kubanggakan. Disamping profesi ibu sebagai guru SD, ibu dari lima orang anak perempuan, beliaupun adalah koki pesta dikampung. Hampir setiap pesta dikampung menggunakan jasa ibu sebagai penanggung jawab masakan yang akan disajikan pada para tamu. Untuk tanggung jawab itu, tak jarang ibu tidak tidur semalam penuh. Meski gurat lelah terlihat di wajahnya, senyumnya selalu merekah saat makanan habis dan para undangan menyukainya. Dan semua kelelahan ibu tak dibayar dengan bilangan uang seperti yang umum terjadi diperkotaan. Dengan nama kampung “ikhwan”, hampir semua penduduk dikampungku memang bersaudara. Satu suku Jawa Tondano, yang bila dirunut silsilahnya akan bertemu pada satu ujung, satu kakek. Kekerabatan yang tinggi membuat sistem gotong royong masih erat melekat. Bila ada pesta dikampung, akan diadakan musyawarah kerja dan saling membagi tugas pada orang-orang yang dipercaya. Dan masing-masing penanggung jawab bekerja hingga seluruh rangkaian acara selesai. Tak ada sistem bayar membayar, karena masing-masing orang telah menyadari bahwa roda selalu berputar dan saat ini ia membantu, suatu waktu ia akan dibantu. Begitu pula dengan ibu, ibu sering berkata bahwa ibu punya lima orang anak perempuan yang Insya Allah semua akan menikah. Mungkin dengan pikiran itu, tak ada beban meskipun lelah seharian bekerja. Tapi seiring waktu, dengan bertambahnya usia ibu dan berkurang kekuatannya, intensitas kehadiran ibu dikegiatan masak memasak di pesta berkurang. Tapi kelezatan masakan ibu sama sekali tidak berkurang.

Setiap aku pulang kampung, dua menu yang ibu tau adalah kesukaanku pasti ada di meja, kuah lulut dan ikan bakar rica. Jika biasanya digorontalo aku makan sehari tiga kali, kalau dikampung, pasti sehari empat kali. Dan setiap pulang kampung pasti berat badan bertambah karena makanan yang enak dan pas di lidah. Saat lebaran, tak afdhol rasanya makan jika bukan ibu yang mengatur rempah masakannyanya, meskipun kami anak-anaknya yang menumis, tapi tanggung jawab akan proporsi campuran rempah pastilah kembali di tangan ibu.

Suatu saat melihat seseorang yang merasa kerepotan karena memasak untuk tamu, ibu menghela nafas. Ibu sempat berucap, “memasak itu memberikan yang terbaik yang kita punya, sungguh senang hati jika melihat masakan kita disukai oleh orang yang memakannya, karena itu memasak harus ikhlas dan penuh cinta”…ahh,…ternyata ini rahasia masakan bunda,…keikhlasan dan cinta yang beliau punya yang selalu menghadirkan kelezatan dalam setiap masakannya. Bukan karena penyedap rasa yang berlimpah, tapi karena ikhlas dan cinta yang tumpah ruah.

Kami sendiri anak-anaknya belum ada yang mampu memasak seperti masakan ibu. Hingga suatu hari kakak iparku sempat bertanya “ mengapa ya, tak ada satupun masakan anak-anak ibu yang seperti masakan ibu?” he..he.he…saat itu kami hanya tersenyum dan mengeluarkan argumen masing-masing. Tapi ketika teringat rahasia masakan ibu,…aku jadi bertanya, mungkinkah kami belum punya cinta dan ikhlas seperti ibu?????(jogja, 12/01/10, saat rindu ibu, disela waktu menunggu evaporasi pelarut minyak es krim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s