Tentang ‘No One Perfect’

No One Perfect adalah tulisan pertama di tahun 2008 yang membangkitkan kembali minatku untuk menulis. Saat SMA dan kuliah beberapa kali menulis (konsumsi sendiri he.he.he….) tidak layak publish memang karena hanya beberapa cerpen dan puisi yang hadir karena terinpsirasi oleh beberapa orang yang sempat pernah dikagumi :) ……dari segi bahasa pun he.he.he….masih amatiran,…sampe sekarang masih amatiran juga sih,…..tapi punya mimpi nih,…semoga suatu hari nanti bisa jadi penulis professional,..amien……:)

No One perfect hadir ketika logikaku mulai menetralisir hati yang sering meracau karena perbedaan perbedaan pandangan dengan suamiku. No one perfect sendiri belum seluruhnya berhasil kujiwai,…tetapi setidaknya, tulisan ini menjadi pengingat bagiku ketika aku terlalu menuntut sesuatu yang sempurna….menjadi pengingat bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna,..kecuali Sang Maha Pemilik Kesempurnaan….nih dia tulisanku,…

NO ONE PERFECT

Satu siang dalam laboratorium Kimia Bahan Pengolahan, sambil menunggu proses pengeringan kedelai bubuk untuk pengujian kadar air, temanku, perempuan yang belum menikah bertanya “mba, gimana sih rasanya menikah?”, aku tersenyum, dan entah darimana, sebuah kalimat yang cenderung filosofis meluncur dari bibirku “menikah seperti kau mendapatkan sekeping uang logam. Kau tidak akan pernah bisa memilih hanya memiliki satu sisinya. Setipis apapun kau mencoba membelahnya, kau akan tetap mendapatkan dua sisinya”.
Setelah selesai kalimatku, aku tertawa sendiri, darimana kalimat itu kudapatkan? Entah…tapi kemudian ku review kembali perjalanan 2 tahun 7 bulan usia pernikahanku.
Sungguh berbeda dengan idealisme-idealisme yang terbayang tentang pernikahan ketika masih sendiri. Setelah menikah, terkadang aku diperhadapkan pada perbedaan perbedaan yang menghadirkan friksi. Hingga suatu waktu aku pernah bertanya, apa yang salah, apa yang tidak sempurna? Bukankah niat melangkah adalah untuk saling memperbaik? Saling menyempurnakan? Lalu mengapa ada ruang hampa?
Satu benturan menyadarkanku untuk melihat sesuatu dengan lebih kompleks (meski belum sempurna). Pernikahan adalah menyejajarkan idealisme dua kepala yang notabene berbeda, hasil bentukan lingkungan dan pengalaman yang berbeda. Ketika argumen tentang suatu hal saling diperhadapkan, kebenaran menjadi suatu hal yang relatif, seperti juga relatifnya sebuah kesalahan. Dan sumber friksi potensial adalah ketika suatu hal yang kita anggap salah adalah benar menurut pandangan orang lain, begitupun sebaliknya. Maka yang dibutuhkan untuk mengeliminir friksi adalah keterbukaan, komunikasi dan keikhlasan untuk saling menerima apa adanya.
Tak ada manusia sempurna. Maka menikahi seorang laki-laki/perempuan harus siap menerima dua sisi orang tersebut. Baik dan buruknya. Seperti kepingan uang logam, sisi pancasila, atau gambar burung kakatua. Tak bisa memilih, karena kalau dihilangkan salah satu sisinya, uang itu akan kehilangan nilai guna (pedagang mana yang mau menerima uang logam yang botak salah satu sisinya???)
Ternyata dua sisi dalam satu benda, satu tubuh manusia, adalah bukti kebesaran Allah dalam penciptaan Nya. Keseimbangan yang mengejawantah dalam bentuk karunia sekaligus ujian. Zat-zat disekitar kitapun ternyata memiliki sisi baik dan buruk yang tidak bisa dipisahkan. Oksigen misalnya, zat yang tanpanya tak ada manusia yang bisa melanjutkan kehidupan, ternyata adalah musuh sekaligus teman. Proses pengikatan oksigen (biasa dikenal dengan proses oksidasi) dibutuhkan manusia untuk pembentukan energi yang digunakan untuk kehidupannya. Tapi proses oksidasi juga dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas yang merupakan inisiator terbentuknya berbagai penyakit degeneratif (kanker, tumor, atherosklerosis, etc) dan proses penuaan dini. Vitamin C, dikenal juga dengan asam askorbat, memiliki sifat antioksidan yang dapat mencegah proses oksidasi. Tapi ternyata Vitamin C sendiri bisa teroksidasi,….nah lho…… Lalu, haruskah kita menghindari Oksigen dan Vitamin C?
Maka sisi baik dan buruk dalam diri sesuatu atau seseorang bukan lagi suatu pilihan. Karena mereka satu kesatuan. Kita tak bisa menghindari oksigen, karena takut radikal bebas, karena kalau menghindarinya sama dengan memilih menggali liang lahat. Lalu???
Once again,…tak ada sesuatu sempurna, “no one perfect”. Seperti ketidak sempurnaan oksigen, seperti dua sisi mata uang, seperti itu pula pernikahan. Pertemuan seorang laki-laki dan perempuan. Tak bisa memilih berinteraksi hanya dengan sifat baiknya saja, tapi juga dengan semua sifat buruknya. Dan mempermasalahkan baik dan buruk hanya menghabiskan waktu dan energi. Waktu dan energi yang sebaiknya digunakan untuk saling mendukung dan mengembangkan diri. Seperti mengkilapkan uang logam agar lebih menarik dimata pedagang (meski nilai jualnya sama) atau seperti memurnikan oksigen agar setidaknya lebih bersih saat dihirup manusia. Seperti itu juga interaksi dua manusia. Saling mengasah potensi baik agar semakin berguna. Friksi,…tak bisa dijadikan enemy,..karena mungkin ia sahabat sejati. Bukankah tak jarang setelah friksi semua justru menjadi semakin berarti???****(jogja, 17/12/08)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s